Bisnis Punya Banyak Proses Kerja? Ini Pentingnya Sistem Manajemen yang Terstruktur
Semakin besar sebuah bisnis, biasanya semakin banyak pula proses kerja yang harus dijalankan. Jika sebelumnya hanya ada beberapa orang yang menangani hampir seluruh pekerjaan, seiring perkembangan perusahaan pembagian tugas mulai bertambah. Ada bagian pemasaran, operasional, keuangan, sumber daya manusia, produksi, pelayanan pelanggan, hingga berbagai fungsi lainnya.
Banyaknya proses tersebut tentu menjadi tanda bahwa bisnis sedang berkembang. Namun, semakin banyak proses yang berjalan bersamaan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk memiliki sistem kerja yang terstruktur.
Tanpa sistem yang jelas, pekerjaan bisa saling tumpang tindih, informasi terlambat diterima, tanggung jawab menjadi tidak jelas, bahkan kesalahan yang sama dapat terjadi berulang kali. Karena itu, perusahaan perlu memikirkan bagaimana setiap proses dapat berjalan secara konsisten dan saling terhubung.
Banyak Proses Kerja Membutuhkan Alur yang Jelas
Dalam sebuah perusahaan, satu pekerjaan sering kali berkaitan dengan pekerjaan lainnya. Contohnya, bagian pemasaran mendapatkan pesanan dari pelanggan. Informasi tersebut kemudian perlu diteruskan kepada bagian terkait untuk diproses. Setelah itu, bagian keuangan mungkin perlu melakukan pengecekan pembayaran, sementara bagian operasional menyiapkan produk atau layanan. Jika setiap bagian bekerja tanpa alur yang jelas, satu kesalahan kecil dapat memengaruhi proses berikutnya.
Misalnya informasi dari pelanggan tidak lengkap. Bagian operasional kemudian harus melakukan konfirmasi ulang. Proses menjadi lebih lama dan pekerjaan yang seharusnya bisa selesai lebih cepat akhirnya membutuhkan waktu tambahan. Sistem manajemen yang terstruktur membantu perusahaan menentukan bagaimana sebuah proses dimulai, siapa yang bertanggung jawab, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana hasilnya diperiksa. Dengan begitu, setiap bagian tidak hanya mengetahui tugasnya sendiri, tetapi juga memahami keterkaitannya dengan proses lain.
Pembagian Tanggung Jawab Menjadi Lebih Jelas
Semakin banyak karyawan dan divisi dalam perusahaan, semakin penting pembagian tanggung jawab. Tanpa pembagian yang jelas, bisa terjadi kondisi ketika dua orang mengerjakan hal yang sama, atau justru tidak ada yang merasa bertanggung jawab karena mengira pekerjaan tersebut merupakan tugas bagian lain. Sistem manajemen membantu perusahaan menetapkan peran dan tanggung jawab sesuai dengan proses yang dijalankan.
Misalnya dalam proses penanganan keluhan pelanggan, perlu ditentukan siapa yang menerima laporan, siapa yang melakukan pemeriksaan, siapa yang memberikan solusi, dan siapa yang melakukan tindak lanjut. Pembagian seperti ini membuat proses lebih mudah dipantau. Karyawan juga tidak harus terus-menerus menebak siapa yang harus menangani suatu pekerjaan ketika muncul masalah.
Prosedur Kerja Membantu Menjaga Konsistensi
Dalam bisnis, hasil pekerjaan sebaiknya tidak bergantung sepenuhnya pada kebiasaan masing-masing karyawan. Jika satu pekerjaan dilakukan oleh tiga orang dengan tiga cara yang berbeda, perusahaan akan kesulitan menjaga konsistensi hasilnya. Karena itu, prosedur kerja dapat digunakan sebagai acuan.
Prosedur tidak harus dibuat rumit. Isinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, misalnya menjelaskan tahapan pekerjaan, pihak yang bertanggung jawab, dokumen yang digunakan, hingga proses pemeriksaan.
Dengan adanya acuan, karyawan memiliki dasar yang sama dalam menjalankan pekerjaan. Hal ini juga membantu ketika perusahaan memiliki karyawan baru. Mereka dapat mempelajari proses kerja berdasarkan sistem yang sudah tersedia, bukan hanya mengandalkan penjelasan dari karyawan lain.
Dokumentasi Membantu Mengurangi Ketergantungan pada Individu
Bayangkan jika sebuah proses penting hanya diketahui oleh satu orang di perusahaan. Selama orang tersebut bekerja, mungkin tidak ada masalah. Namun ketika ia cuti, pindah divisi, atau meninggalkan perusahaan, proses tersebut dapat terganggu karena tidak ada orang lain yang memahami cara menjalankannya. Dokumentasi dapat membantu mengurangi kondisi seperti ini. Informasi penting mengenai proses kerja dapat disimpan dan dikelola sehingga dapat menjadi referensi bagi pihak yang membutuhkan.
Dalam sistem manajemen, dokumentasi bukan sekadar kumpulan file. Informasi yang digunakan harus relevan, mudah ditemukan, diperbarui ketika diperlukan, dan dikendalikan agar karyawan menggunakan informasi yang benar. Dengan begitu, perusahaan tidak terlalu bergantung pada pengetahuan yang hanya dimiliki oleh individu tertentu.
Sistem yang Terstruktur Membantu Mengelola Risiko
Setiap proses bisnis memiliki risiko, risiko tersebut bisa berupa kesalahan manusia, keterlambatan pekerjaan, kerusakan peralatan, kehilangan informasi, masalah kualitas, hingga gangguan yang menyebabkan operasional berhenti. Jika proses perusahaan sudah semakin banyak, risiko yang perlu diperhatikan juga semakin beragam. Sistem manajemen membantu perusahaan mengenali risiko yang berkaitan dengan prosesnya. Setelah risiko diketahui, perusahaan dapat menentukan tindakan yang sesuai untuk mengurangi kemungkinan terjadinya masalah atau mengurangi dampaknya.
Misalnya perusahaan menemukan bahwa proses persetujuan dokumen terlalu bergantung pada satu orang. Perusahaan kemudian dapat mempertimbangkan pengaturan kewenangan dan mekanisme pengganti agar proses tidak berhenti ketika orang tersebut tidak tersedia. Dengan pendekatan seperti ini, perusahaan tidak hanya menyelesaikan masalah setelah terjadi, tetapi juga berusaha mengantisipasinya.
Evaluasi Membantu Menemukan Bagian yang Perlu Diperbaiki
Sistem kerja yang sudah dibuat bukan berarti harus digunakan selamanya tanpa perubahan. Kondisi bisnis dapat berubah. Jumlah pelanggan bertambah, teknologi berkembang, struktur organisasi berubah, dan kebutuhan perusahaan pun dapat mengalami penyesuaian. Karena itu, proses kerja perlu dievaluasi secara berkala.
Perusahaan dapat melihat apakah prosedur yang digunakan masih relevan, apakah terdapat tahapan yang tidak diperlukan, apakah sering terjadi kesalahan pada bagian tertentu, atau apakah ada proses yang justru memperlambat pekerjaan.
Evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk pemantauan proses, pemeriksaan hasil pekerjaan, penanganan keluhan, hingga audit internal. Dari hasil evaluasi tersebut, perusahaan dapat menentukan tindakan perbaikan.
Hubungan Sistem Manajemen dengan ISO
Konsep sistem manajemen yang terstruktur juga berkaitan dengan penerapan standar ISO. ISO memiliki berbagai standar yang dapat digunakan sesuai kebutuhan organisasi. Salah satunya adalah ISO 9001 yang berfokus pada sistem manajemen mutu. Dalam penerapannya, perusahaan perlu memahami proses yang dijalankan, menentukan tanggung jawab, mengelola risiko, menjaga informasi yang diperlukan, mengevaluasi kinerja, serta melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Artinya, penerapan ISO bukan hanya tentang membuat prosedur kemudian mendapatkan sertifikat.
Perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang dibuat benar-benar diterapkan dalam kegiatan operasional. Untuk kebutuhan tertentu, perusahaan juga dapat mempertimbangkan standar ISO lainnya. Misalnya ISO 14001 untuk sistem manajemen lingkungan, ISO 45001 untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, atau ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi. Pemilihan standar tentu perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Sistem Terstruktur Bukan Berarti Birokrasi Semakin Rumit
Ada anggapan bahwa semakin banyak prosedur, berarti pekerjaan akan semakin lambat. Padahal, sistem yang baik justru seharusnya membantu pekerjaan menjadi lebih jelas. Masalah biasanya muncul ketika perusahaan membuat prosedur yang terlalu banyak, tetapi tidak sesuai dengan kondisi operasional.
Karena itu, sistem manajemen perlu dibuat secara proporsional. Prosedur yang dibuat sebaiknya benar-benar memiliki fungsi dan membantu karyawan menjalankan pekerjaan. Jika sebuah proses sudah berjalan dengan baik, perusahaan tidak perlu menambahkan tahapan hanya demi terlihat lebih formal. Tujuan utamanya adalah menciptakan proses kerja yang jelas, efektif, dapat dikendalikan, dan mudah dievaluasi.
Semua Bagian Perlu Terlibat
Sistem manajemen tidak akan berjalan maksimal jika hanya dipahami oleh manajemen atau satu divisi tertentu. Karyawan yang menjalankan proses sehari-hari juga perlu mengetahui bagaimana sistem tersebut bekerja. Manajemen memiliki peran dalam menentukan arah dan menyediakan sumber daya. Sementara itu, setiap bagian memiliki tanggung jawab dalam menerapkan proses sesuai perannya.
Komunikasi juga menjadi penting. Ketika terdapat perubahan prosedur atau kebijakan, informasi tersebut perlu disampaikan kepada pihak yang berkepentingan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan keterlibatan seluruh bagian, sistem manajemen tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan kerja perusahaan.
Saatnya Menata Proses Sebelum Bisnis Semakin Kompleks
Memiliki banyak proses kerja merupakan bagian dari perkembangan bisnis. Namun, semakin kompleks sebuah perusahaan, semakin penting pula cara perusahaan mengatur proses tersebut. Alur kerja yang jelas, pembagian tanggung jawab, dokumentasi, pengelolaan risiko, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan dapat membantu perusahaan menjaga operasional tetap terarah. Sistem manajemen yang terstruktur juga dapat menjadi dasar bagi perusahaan yang ingin menerapkan standar ISO sesuai kebutuhan bisnisnya.
Pada akhirnya, sistem manajemen bukan dibuat untuk menambah pekerjaan administratif. Sistem tersebut seharusnya membantu perusahaan mengetahui bagaimana pekerjaan dilakukan, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana masalah ditangani, dan bagaimana proses dapat terus diperbaiki.
Jika bisnis mulai memiliki semakin banyak proses dan perusahaan ingin menatanya dalam sistem yang lebih terarah, penerapan standar ISO dapat menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan. Certinesia siap membantu perusahaan memahami kebutuhan sistem manajemen dan mempersiapkan proses sertifikasi sesuai karakteristik bisnisnya.